Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengapa Palestina Dijajah Oleh Bangsa Yahudi

 Pada abad ke-19,  konflik internal dan ketertinggalan mulai menggerogoti kekaisaran Ottoman. Perlahan namun pasti, sentimen kemerdekaan dari Ottoman pun mulai tersebar di Timur Tengah. Khususnya, dari bangsa Arab.

Di saat yang sama, sebuah gerakan untuk membuat negara di Palestina mulai menyebar. Keduanya, mendapat dukungan dari Inggris. Ironisnya, kaum Zionis dan bangsa Arab, berseteru, dan memperebutkan Palestina.

Pada tahun 1940-an, perseteruan ini, meledak menjadi perang. Pada akhir dari perang tersebut, Israel tetap berdiri. Namun Palestina, yang seharusnya merdeka belum juga terjadi.

Lantas, mengapa meski mendapat banyak dukungan, Palestina tidak segera merdeka?

Artikel ini adalah bagian pertama dari sejarah singkat Palestina. Sejak tahun 1800-an, kaum Yahudi Eropa, mulai berbondong-bondong pindah ke Palestina.

Mereka datang dengan berbagai motif. Dari kebutuhan spiritual, melarikan diri dari persekusi, sembari membawa harapan akan negara yang aman bagi kaumnya.

Kedatangan mereka masih ditoleransi oleh penduduk setempat. Lagipula, mereka hanyalah imigran yang gerak-geriknya diawasi oleh pemerintahan Ottoman.

Alasan singkat kenapa palestina dijajah

Tujuan berdirinya negara Yahudi Di Plastina

Lalu, seorang Yahudi bernama Theodor Herzl, memulai sebuah gerakan bernama Zionisme. Tujuan dari gerakan ini sangat sederhana. Sebuah negara Yahudi harus didirikan di Palestina, yang dianggap sebagai kampung halaman bangsa Yahudi.

Untuk memperkuat gerakannya, kaum Zionis giat berdiplomasi dengan negara-negara Eropa. Khususnya, Inggris.

Salah satu argumentasi yang mereka bawa adalah Palestina adalah tanah tanpa populasi yang signifikan. Bagi masyarakat Arab Palestina, ide ini sangat menjijikkan.

Pertama, Palestina masih menjadi bagian dari kekaisaran Ottoman.

Dan segala upaya untuk membangun negara tanpa izin dari Ottoman, tidak lebih dari menyerang penguasa yang sah.

Kedua, sementara diaspora Yahudi tersebar di seluruh dunia.

Bangsa Arab juga sudah hidup di Palestina selama berabad-abad, bahkan berdampingan dengan sebagian Yahudi. Seharusnya, mereka juga memiliki status sebagai penduduk asli yang berhak memiliki negara sendiri.

Maka dari itu, pembentukan negara Yahudi di tanah Palestina harus mendapatkan persetujuan dari mereka. Kaum Zionis tidak berkutik.

Dan pada tahun 1900an, perseteruan keduanya menjadi semakin sengit. Pada akhir dari Perang Dunia 1 seluruh Palestina dikuasai oleh Inggris.

Kaum Arab-Palestina pun semakin giat melobi Inggris demi menghentikan gerakan Zionisme. Sejak tahun 1919, asosiasi umat Muslim dan Nasrani Palestina berupaya meyakinkan Eropa untuk menolak Deklarasi Balfour, yang menjanjikan pembentukan negara Yahudi di dalam Palestina.

Partai atau Kelompok di Palestina Bermunculan

Mulai dari tahun 1923, partai politik mulai bermunculan. Mulai dari Partai Komunis Palestina, Partai Istiqlal (1932), Partai Arab Palestina (1935), dan masih banyak lagi.

Pada tahun 1936, Arab Higher Committee (AHC) dibentuk untuk mewakilkan keresahan bangsa Arab Palestina kepada Inggris. Taktik lain seperti demonstrasi, boikot, dan mogok pun dilakukan terhadap Inggris.

Masalahnya, Inggris juga terikat janji terhadap kaum Zionis. Alhasil, Inggris menyarankan agar Palestina dibagi menjadi dua. Satu untuk Yahudi, satu untuk Arab.

Usulan ini ditolak keras oleh AHC, dan kekerasan antara Yahudi dan Arab pun meningkat. Pada tahun 1937, seorang perwira kelahiran Australia, Lewis Yelland Andrews, dibunuh ketika hendak pergi beribadah.

Inggris menunjuk AHC sebagai biang dari pembunuhan ini. Dengan cepat, AHC dan partai-partai di Palestina dibubarkan. Anggotanya ditangkap dan dibuang. Dan mereka yang melawan, akan dieksekusi.

Dan sementara semua ini terjadi, lobi dari kaum Zionis di Eropa, khususnya di Inggris, terus berlangsung. Dan tentu saja, imigrasi kaum Yahudi di Palestina tetap terjadi.

Situasi Palestina semakin memburuk. Inggris mulai melarang imigrasi Yahudi untuk menenangkan masyarakat Arab. Namun kini, kelompok teror Yahudi justru bermunculan dan menyerang Inggris.

Di saat yang sama, Inggris juga lelah akibat Perang Dunia II. Mandat Inggris di Timur Tengah, tidak akan lama lagi. Dan hal ini disadari oleh negara-negara Arab.

Pada tahun 1944, negara-negara Arab yang sudah merdeka membentuk Liga Arab untuk mewakilkan, melindungi, dan memerdekakan Palestina.

Pada 1937, Liga Arab dan Palestina kompak menolak rekomendasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membagi Palestina dengan bangsa Yahudi.

Mereka menganggap Palestina harus mencakup wilayah Israel juga. Liga Arab Pun mempersiapkan perang apabila resolusi tersebut dijalankan. Dan resolusi tersebut dijalankan.

Israel tetap memproklamasikan kemerdekaannya dan Inggris mulai meninggalkan Palestina. Perang, kini tidak terelakan. Kemenangan Arab seharusnya mudah dicapai. 

Kekalahan Bangsa Arab

Namun, terdapat perbedaan signifikan antara persiapan negara Arab dan Israel. Pertama, sementara masing-masing negara Arab memberikan sebagian dari pasukan mereka, Israel terpaksa mengerahkan seluruh masyarakatnya.

Pasukan-pasukan Arab pun kurang berkoordinasi satu dengan yang lain. Sementara itu, Perdana Menteri Israel, David Ben-Gurion meleburkan milisi-milisi Yahudi, yakni Hagannah, Irgun, dan Lehi menjadi satu organisasi dengan garis komando yang jelas, yakni IDF.

Kedua, Sementara banyak masyarakat sipil Arab Palestina melarikan diri, Ben Gurion melarang kaum Yahudi meninggalkan Israel. Di saat yang sama, imigrasi Yahudi ke Israel dibuka secara besar-besaran. Tak sedikit dari imigran Yahudi Eropa turut bersukarela dalam bertempur.

Ketiga, negara Arab sangat yakin bahwa meskipun mereka gagal, perjuangan dapat terus dilanjutkan dari negara mereka tanpa henti.

Namun bagi kaum Israel, sudah tidak ada lagi kesempatan kedua. Bagi mereka, perang ini adalah penentuan masa depan mereka. Menjadi bangsa merdeka? Atau menjadi bangsa buangan selama berabad-abad lagi?

Satu-satunya pilihan bagi mereka kini hanyalah bertempur hingga titik darah penghabisan. Jauh dari ekspektasi negara-negara Arab tersebut, pasukan Israel tidak kunjung melarikan diri. Mereka tidak kunjung menyerah dan tentunya Israel tidak kunjung hancur.

Negara-negara Arab tersebut bahkan harus menerima perlawanan sengit dan harus menerima ribuan pengungsi Palestina. Israel tidak segan-segan menyerang posisi Arab, mengecoh pasukan-pasukan Arab yang kurang berkoordinasi, hingga mengusir penduduk Arab ke negara lain.

Desa demi desa, kota demi kota, Israel berhasil menggagalkan upaya pasukan Arab. Alih-alih terpojok, Israel malah memperluas wilayahnya. Satu-persatu negara Arab mulai menghentikan serangan.

Pada 24 Februari 1949, Mesir menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan Israel dan menduduki Gaza.

Lalu Israel dan Libanon menyetujui gencatan senjata. Diikuti Yordan, yang menyetujui gencatan senjata dengan Israel dan menduduki Tepi Barat. Dan akhirnya pada 20 Juli 1949, Suriah menandatangani gencatan senjata dengan Israel.

Dengan demikian, kemerdekaan Palestina yang dijanjikan negara Arab tersebut tertunda alias tak kunjung datang.

Sumber:
1. Hipotesa
2. The PFLP’s Changing Role in the Middle East (Karya Harold M. Cubert)
3. Israel’s Wars, (1947 - 93) (Karya Ahron Bregman)
4. The Hundred Years War on Palestine: A history of Settler Colonial Conquest and Resistance (Karya Rashid Khalidi)

Post a Comment for "Mengapa Palestina Dijajah Oleh Bangsa Yahudi"