Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kenapa Kita Harus Punya Banyak Circle?

Kita mungkin punya satu kenalan yang banyak banget temannya. Yang circle-nya tuh ada di mana-mana. Kalau lebaran, buka bareng, ulang tahun, atau ada acara tertentu, pasti banyak banget yang nge-reply atau dia banyak banget nge-reupload instagram story yang orang post.

Pentingnya circle dalam hidup

Sebenernya penting gak sih punya banyak teman, alias punya banyak circle? Ada nggak sih tips dan trik biar teman kita bisa banyak?

Karena banyak juga ITzen memilih sendiri atau nggak punya circle. Sebenarnya itu baik nggak sih?

Penting nggak sih punya circle yang luas?

Manfaat dari circle yang luas sebenarnya bisa macam-macam, tapi ada satu alasan yang menurutku cukup penting dan belum banyak dibahas. Kata riset yang terbit baru-baru ini, circle pertemanan bisa jadi sarana kita untuk jadi kaya.

Kalau kita berteman dengan orang yang kelas sosialnya di atas kita, itu akan meningkatkan peluang untuk jadi lebih kaya dan naik ke kelas sosial yang lebih baik.

Banyak anak muda sekarang ngerasa hanyalah butiran debu, kita merasa sandwich generation, atau Gen-Z yang misqueen.

Kalau circle kita luas, penghasilan kita ketika dewasa itu cenderung meningkat cukup tinggi bahkan puluhan persen lebih tinggi dari penghasilan orang-orang yang circlenya mungkin biasa aja. 

Pertanyaannya: Kok bisa? Ya ilustrasinya sih simpel.

Pertemanan membuka wawasan

Kalau misalnya ada seseorang berteman sama orang lain yang mungkin punya privilege, dia tuh bakal punya peluang untuk terpapar sama wawasan atau mungkin cara hidup yang gak bisa dia dapatkan di keluarganya.

Kalau kita ngerasa sekarang kelas sosial ekonominya dibawah, mungkin di rumah kita nggak ada yang ngajarin untuk investasi, punya dana darurat. Ya udah, penghasilan dan juga mindset kita ya gitu-gitu aja. Jadinya susah untuk naik kelas.

Tapi kalau misalnya kita banyak tongkrongan dan lain sebagainya, mengamati kehidupan teman-teman yang kelas atas maupun kelas bawah, bisa minta tolong dan sebagainya. 

Akhirnya jadi kebuka wawasannya bahwa ada konsep yang namanya investasi, dana darurat. Jadi tau, networking tuh caranya kayak gini.  Itu baru beberapa aspek aja, belum lagi aspek hidup lain seperti kesahatan, pendidikan dan lain-lain.

Pertemanan mempermudah kesuksesan

Kita juga bisa dapat kesempatan tawaran-tawaran yang bisa ngebantu kita untuk ningkatin taraf hidup. Ibaratnya dapat channel-channel yang banyak karena relasi yang kita bangun.

Hal-hal kayak gitu sulit buat didapatkan kalau kita nggak ada hubungan sosial yang kebentuk sama orang lain.

Bukan cuma kita masuk ke lingkungan elite, ke sekolah elite, tapi kalau pola hubugan kita kurang luas. Bisa jadi kecenderungan kita untuk sukses jadi lebih rendah.

Kata kuncinya adalah kedekatan pertemanan antar kelas sosial. Baik kelas atas dengan kelas bawah maupun kelas bawah dengan kelas atas. Jadi dengan berbagai macam kelas.

That’s why ada quotes bilang:

“You are the average of the five people you spend time with”.

Kita adalah cerminan dari tongkrongan yang sering kita datengin, sering bareng sama kita. Rasulullah kan juga bilang, kita tergantung dari agama teman dekat kita.

Pertemanan membangun empati dan kepercayaan diri

Keuntungan lainnya untuk punya circle yang luas. Kita lebih terbuka sama bermacam-macam hal. Sebenarnya bisa dijelasin lewat teori “contact hypothesis”.

Jadi teori ini bilang, kalau kita banyak berteman dengan berbagai macam kelompok sosial dengan kelas sosial, lewat pertemanan kita bisa ngebangun empati, bisa jadi lebih open-minded sama orang dari berbagai background.

Dan kita bisa jadi ‘social butterfly’. alias kita supel banget lah sama banyak orang. Kita bisa jadi lebih seneng ketemu dan berinteraksi sama orang lain. Lebih enjoy sama banyak orang meskipun kita berbeda pendapat.

Nggak heran kalau orang-orang yang pergaulannya banyak, sering main sana-sini bisa jadi social butterfly. Bisa ke satu circle dan bisa ke circle yang lain bahkan yang beda banget sekalipun.

Mirip Vidi Aldiano yang sempat jadi perbincangan netizen, karena  circle pertemanannya luas banget. Nggak cuma sesama entertainer, tapi juga pengusaha, CEO, bahkan sampai atlet juga.

Ibaratnya kalau kita liat orang “Kok ada Vidi mulu.” Itu keren banget sih.

3 lapisan circle dalam hidup

Yang pertama, kita mesti tau ada yang namanya lapisan 1 atau yang paling dasar. Ini adalah circle yang isinya orang-orang yang tumbuh bersama kita. Bisa keluarga, kerabat, atau teman sekolah.

Lapisan 1 ini, mungkin kelas sosial dan backgroundnya sama. Bisa jadi tujuan hidupnya sama atau mungkin beda dengan kita. Tapi intinya ini adalah orang yang tumbuh bareng dengan kita.

Makanya ini adalah circle paling dasar atau basic relationship. Jadi keluarga dan sahabat kita.

Lapisan ke-2. Nah, ini adalah circle yang isinya orang-orang yang berhubungan sama kita dalam kehidupan sehari-hari.

Contohnya; teman kerja, sahabat-sahabat akrab dari kerjaan, circle hobi. Ini adalah orang yang mungkin saat ini setara dengan kita bahkan bisa jadi punya tujuan yang sama dengan kita. 

Ketiga, adalah orang-orang yang bisa jadi ‘lebih’ daripada kita. Atau bahkan berbeda banget dari kita.

Ini bisa jadi adalah orang-orang yang berprestasi, punya skill yang oke di bidang masing-masing, dan gaya hidupnya mungkin kita kagumi. Entah itu di bawah kita atau mungkin di atas kita. 

Circle yang bakal bikin kita terpacu buat mengembangkan diri. Bukan buat bikin kita insecure, kalau kita inscure mungkin cirlenya toxic.

Cuma isinya ini adalah orang-orang yang bisa kita jadikan sebagai acuan, jadi mentor, bisa belajar banyak dari mereka.

Kita sudah sampai lapisan keberapa? Atau jangan-jangan kita kesulitan bahkan untuk berhubungan baik sama lapisan ke-1?

Baca juga: Self Awareness: Seni untuk memahami diri 

Kita harus punya banyak circle! 

Kalau ngomongin soal circle, sedihnya memang nggak dipelajari di sekolah. Termasuk pelajaran tentang pertemanan, keluarga, sahabat, pasangan. Ini tuh hal yang nggak kita pelajari di sekolah.

Hubungan dengan keluarga, pasangan, teman terdekat kita kalau bisa sih jangan f****d up. Kenapa ini penting? 

Misal, mau bikin bisnis atau kita punya mimpi, akan susah sukses kalau hubungan kita sama keluarga, pasangan atau teman itu fucked up. 

Punya circle yang memuaskan juga level 1, 2, 3 itu tuh nggak gampang terlebih di usia yang udah dewasa dimana banyak orang yang ngerasa lebih susah buat berteman sama orang baru dan ini terbukti oleh riset.

Makin dewasa sejak umur 20 udah susah nyari teman. Jangankan nyari teman baru, teman lama pun udah mulai pada hilang kontak. Makanya gak heran makin banyak orang yang merasa kesepian, 

Jadi masalahnya banyak kalau kita udah nggak punya circle terus kita nggak belajar, jadi susah untuk percaya sama orang. Takut di-judge, takut ditolak, takut nggak disukai. 

Ketika kita udah dewasa, waktunya makin sedikit. Harus fokus sama karir, harus mulai berkeluarga, dituntut punya anak, punya rumah, mobil. Jangankan punya banyak circle, punya hubungan sosial dasar aja masih kesulitan.

So, ini memang perlu diberesin dulu sebelum kita bisa mencapai hubungan yang meaningful yang ada di level 3.

Tapi tenang aja, meskipun tadi aku nyebut banyak hal negatif, banyak masalah, ini bisa banget buat dipelajari. Ini bisa banget buat diobatin. 

Gimana sih, supaya kita bisa dapat circle berkualitas? baik circle kuliah atau sekolah. Mulai sekarang, lebih buka diri dan melihat peluang yang ada. Jangan ragu untuk mencoba kesempatan baru. Jangan ragu gabung ke organisasi atau komunitas yang membuatmu lebih baik. 

Penutup

Oke mungkin itu beberapa hal yang bisa jadi pertimbangan kamu buat punya circle seluas-luasnya. But at the end of the day, tentu mau punya circle banyak atau nggak adalah pilihanmu.

Yang aku jelasin tadi adalah salah satu riset yang mungkin ada kontranya. Terlepas dari semuanya, ya jangan lupa aja buat pastiin kalau pertemanan terdekat kita itu berkualitas dan membawa manfaat buat diri kita.

Minimal kita nggak rugi lah dan kita nggak ngerugiin orang juga. Yang nggak kalah penting kita senang dan nyaman ketika kita berhubungan sama circle kita.

Oke terakhir, mungkin aku mau nanya satu pertanyaan ke ITzen, kira-kira menurutmu circle luas itu penting atau nggak?

Aksa Asri
Aksa Asri Tempatku melamun akan berbagai hal :")

Post a Comment for "Kenapa Kita Harus Punya Banyak Circle?"